Kamis, 14 Agustus 2008

Beberapa Hal Seputar Keikhlasan

Ngomong2 ikhlas jadi teringat perkataan “Ilmu Ikhlas” di film Kiamat Sudah Dekat ya, hehe. Seriously, urgensi keikhlasan sangat penting karena dengan ikhlas amalan diterima, karena itu sebaiknya bersungguh2 untuk mempelajari dan mengamalkan ‘ilmu ikhlas’ ini. Tulisan ini banyak dikutip berdasarkan buku tulisan DR Yusuf Qardhawi dengan judul Niat dan Ikhlas.

Ikhlas artinya meluruskan niat untuk beramal karena Allah dan mengharap ridha Allah serta balasan dari-Nya, beranjak dari surat 7:29 dan 39:2. Ikhlas bisa juga diartikan melakukan amalan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Sebagai ilustrasi untuk menjelaskannya, kita mengenal ungkapan cari muka, contoh kalimat; “Si A mencari muka kepada bosnya di kantor” misalnya, sebagai suatu bahasa kiasan, maka ikhlas adalah mengharapkan wajah Allah, yang maksudnya adalah melakukan perbuatan mengharap simpati dan ridha Allah.

Niat bisa lebih mudah diset menjadi ikhlas bila melakukan ibadah seperti puasa atau shalat tahajjud, dimana orang lain ga ada yang tahu dan ibadah dilakukan langsung mencari keridhaan-Nya. Sedikit complicated kalau berhubungan dengan muammalah/interaksi langsung sesama manuasia, dimana ada kemungkinan untuk riya, yang mana ini mesti dihindari. Maka perlu diperhatikan antara niat, berbuat baik dan mengharapkan balasan dr amalan. Menempatkan kesenangan di hati muslim sangatlah dianjurkan, sesuai hadits “Amal perbuatan yang disukai Allah sesudah yang fardhu/wajib ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim (HR Atthabrani). Maka jangan remehkan amalan2 ringan seperti senyum, tegur-sapa, dll. Sedangkan mengharap suatu balasan hanyalah dari Allah (26:127), sebab mengharap balasan dari makhluk, menurut Qardhawi akan menimbulkan rasa lelah/frustasi, capek deh, hehe. Maka dengan berbuat baik serta tidak mengharap balasan dari orang tsb, sudah mengapplikasikan kebaikan dan rahmat bagi sekitar.

Niat yang lurus searah dengan pengharapan sukses di akhirat. Salah kaprahnya segelintir orang, tentu bukan termasuk pembaca :), mereka bilang “Kita ga boleh mengharap syurga, itu syirik” katanya. Maka hendaklah mesti jelas bahwa tidak ada pertentangan antara menginginkan keridhaan Allah dan menginginkan akhirat (masuk syurga, jauh dari neraka). Bila seorang sukses di akhirat berarti mendapat pahala dan keridhaan Allah, mendapatkan apa yang ada disisi-Nya. Nabi SAW pun dalam banyak kesempatan mengajarkan doa2 berisikan pengharapan syurga (contoh doa; rabbana atina fiddunya hasanah wa filakhirati hasanah, waqinna azabannar, dan doa2 lain), begitu juga yang didapat di banyak tempat di Qur’an, karena syurga merupakan tempat penuh dengan nikmat dan keridhaan Allah Swt.

Bagaimana bila sewaktu beribadah, sedang shalat atau baca qur’an umpamanya, niat ikhlas didapati bercampur dengan niat lainnya? Dimana rasa keikhlasan juga dibarengi dengan perasaan show-off, riya, dll. Dalam hal ini Qardhawi menukil landasan daripada pendapat Imam Al-Ghazaly dalam bukunya Al-Ihya; Jika berhimpun bersama, pasti keduanya akan saling menyingkirkan. Bila kekuatan pendorong, riya lebih dominan, maka amalan tidak mendatangkan pahala, jika taqarrub/keikhlasan lebih dominan, maka dia mendapat pahala sesuai dengan kadar keikhlasannya. Poinnya adalah; kudu terus berusaha memurnikan tujuan dengan benar. Jika melakukan amal dengan ikhlas, tiba2 muncul riya, maka mesti berusaha menghilangkannya Menurut Hasan Basri (seorang ulama) pahala tidak gugur bila tiba2 datang niat riya, tetapi mesti menghilangkannya dan adalah bagus untuk memperbarui niat. Mudah2an kita termasuk yang berusaha menjaga keikhlasan dan bisa meningkatkan kualitas ibadah, Amiin.

Dalam aspek kehidupan dunianya, adalah wajar seseorang mencari harta untuk memenuhi kebutuhannya, berkeluarga dsb, namun semua itu mesti dihubungkan dengan ibadah, kesyukuran dan sarana untuk dekat kepada Allah. Bila demikian maka seseorang mengapplikasikan hubungan baik kepada Rabbnya dalam bingkai ibadah dalam seluruh bidang kehidupannya (6:162).

Manfaat ikhlas banyak sekali, saya cantumkan aja poin2nya di buku itu, silakan dijelaskan masing2 :). Selain tentu saja yg paling utama adalah diterimanya amal, manfaat ikhlas antara lain: ketenangan jiwa, kekuatan ruhani, giat dan cenderung pada ibadah, beramal secara berkelanjutan, mendapat pertolongan dan rahmat Allah, suasana aman dan terkendali dalam masyarakat, dsb.


Referensi:

Niat dan Ikhlas, oleh Yusuf Al-Qardhawy, dicetak Pustaka Al-Kautsar (1996)

Pencantuman tulisan dalam blog ini adalah permintaan dari Muhammad Farizi (dikirim via email)

1 komentar:

faisol mengatakan...

terima kasih sharing ilmunya...
saya membuat tulisan tentang "Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?"
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/

Template by:
Free Blog Templates