Rabu, 27 Agustus 2008

PANDUAN MEMILIH JAMA'AH

Oleh Abu Farhan
Pasca reformasi, bangsa Indonesia larut dalam ekspresi kebebasan berpendapat dan kreatifitas yang berlebihan. Bukan hanya partai politik yang menjamur namun juga jama'ah dakwah. Bukan hanya parpol yang jago kampanye tapi jama'ah dakwah juga ahli melakukan propaganda. Seperti tukang obat, mereka menyatakan obatnyalah yang paling manjur dan paling mujarab. Dengan doktrin-doktrin yang dikemas sedemikian rupa tidak sedikit orang terpelajar yang terbawa arus ini.Ada yang berteriak, "Jama'ah saya adalah jama'ah yang terbaik, karena jama'ah saya adalah pengikutnya orang-orang terdahulu." Jama'ah lainnya berkata, "Jama'ah sayalah yang paling hebat, karena jama'ah saya berjuang menegakkan syariat Islam dan khilafah Islamiyah." Kelompok lainnya berkata, "Jama'ah sayalah yang terhebat, karena selalu berjihad sepanjang waktu."Klaim-klaim tersebut tentu saja sah-sah saja, asal tidak dibumbui dengan caci maki dan sikap mau menang sendiri dalam segala hal. Atau sikap merasa paling syar'i dan paling nyunnah. Bahkan mengaku sebagai satu-satunya kelompok yang selamat (Firqatun najiyah).Untuk itu agar kita dapat membeli "jamu" yang benar-benar cespleng tentu dibutuhkan panduan. Supaya dapat membedakan mana "jamu" yang sudah kadaluarsa/usang dan mana yang belum. Mana "jamu" yang mengandung racun dan mana jamu beneran.Jama'ah Adalah WasilahPertama yang harus kita pahami bahwa jama'ah adalah wasilah (alat) bukan tujuan (ghayah). Kalau alat maka hukumnya tergantung kebutuhan. Yaitu berputar pada 'illatnya (alasannya). Bisa wajib dan bisa juga sunnah. Bahkan mungkin haram kalau jama'ah tersebut justru menyebabkan pertikaian dan konflik yang berkepanjangan diantara mereka atau sesama mereka. Atau justru mengajak kepada kesesatan. Semisal Ahmadiyah, LDII, JIL, Syiah dan Salamullah.Namun demikian dalam era ini jama'ah dakwah tentu sangat dibutuhkan. Karena baik secara naqli dan aqli memiliki landasan hukum yang kuat. Masalahnya apakah perlu dibatasi? Lalu siapa yang berhak membatasi? Sebab jika terlalu banyak juga bikin bingung. Bahkan dari satu jama'ah saja bisa pecah menjadi berbagai jama'ah. Contohnya kelompok yang hobi menuntut ilmu membentuk jama'ah ilmiyah. Yang suka jihad membentuk jama'ah jihadiyah. Yang suka tahdzir (mengkritik secara keras dan kasar) membentuk jama'ah tahdziriyah. Yang suka hajr (memboikot) membentuk jama'ah hajriyah. Sampai-sampai seorang ustadz harus menulis buku, "Lerai Pertikaian Hentikan Permusuhan."Secara Naqli dapat kita lihat dalam Alqur'an dan berbagai hadits nabi yang mengisyaratkan untuk hidup berjama'ah."Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."(Ali Imran 3:103)"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat"(Ali Imran 3:105).Rasulullah bersabda, "Tangan Allah bersama jama'ah." (HR Tirmidzi). Rasulullah SAW bersabda, "Dan aku memerintahkan kepada kalian lima hal. Allah memerintahkan aku dengan kelima hal tersebut, yaitu: berjama'ah, mendengarkan, menta'ati, berhijrah dan berjihad di jalan Allah...."(HR Ahmad).Dari Muadz bin Jabal, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya syetan adalah serigala bagi manusia, seperti serigala bagi kambing yang memakan kambing yang keluar dari kawanan dan menyendiri. Karena itu jauhilah perpecahan, dan hendak kamu bersama jama'ah dan orang banyak. " (HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Albani).Umar pernah berkhutbah dihadapan manusia , "... barang siapa diantara kamu yang menginginkan kenikmatan syurga, maka hendaklah ia senantiasa berkomitmen dengan jama'ah." (HR Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir berkata sanadnya shahih.)Adapun secara aqli sangat jelas bahwa tidak mungkin dakwah Islam yang demikian luas dan berat ini dikerjakan secara individual. Untuk urusan yang sederhana saja kita butuh tim. Apalagi dalam urusan yang besar ini.Untuk menyapu jalanan saja kita harus menggunakan lidi yang disatukan dalam bentuk sapu. Untuk membangun rumah juga butuh tim antara tukang kayu, tukang batu, tukang listrik dan kernet. Untuk mengurus perusahaan dibutuhkan komisaris, direktur, kepala divisi, kepala bagian, kepala seksi hingga staf, satpam, pantray hingga office boy.Kesimpulannya dakwah ini tidak mungkin dikerjakan sendiri-sendiri. Dakwah harus dikerjakan secara berjama'ah.Berlandaskan Alqur'an dan SunnahJama'ah dakwah yang kita pilih haruslah didasarkan kepada Alqur'an dan sunnah. Adapun tambahan harus mengikuti orang terdahulu yang shalih adalah masalah khilafiyah. Sebab yang diangkat sebagai nabi dan Rasul adalah Muhammad SAW. Dan syahadat kita juga hanya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, bukan kepada sahabat. Yang harus ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang ma'shum juga hanya Rasulullah. Sebab sahabat bisa salah dan bisa juga benar. Jadi kepada para sahabat sifatnya adalah ittiba' bukan taat. Ini mengindikasikan bahwa mengikuti salafush shalih adalah lebih utama. Karena itulah kita tidak akan pernah menemukan perintah untuk mentaati sahabat. Yang ada adalah taat kepada Allah, Rasul-Nya dan para pemimpin (ulil amri). Jadi ketaatan kepada sahabat adalah ketataan ketika mereka menjadi pemimpin. Misalnya sebagai khalifah atau panglima perang.Lebih-lebih jika kita baca fitnatul kubra yang terjadi pada masa Ali RA dengan Muawiyah RA. Maka kita akan kebingungan. Sebab sebagian sahabat berpihak kepada Ali. Sebagian kepada Muawiyah dan sebagian tawaquf (diam). Demikian halnya dalam mengikuti Rasulullah. Ada yang seperti Abdullah ibnu Umar yang mengikuti Rasulullah sampai detil. Hingga unta Rasulullah duduk dan berputar juga diikuti. Begitupun dalam masalah wudhu beliau mencuci hingga ke dalam matanya, yang ini mengakibatkan beliau buta. Tapi ada juga yang mengambil masalah-masalah pokok dalam beragama.Sahabat Rasulullah juga memiliki karekteristik yang unik dalam beragama. Ada yang seperti Khalid bin Walid yang sibuk di medan perang. Ada yang seperti Abu Hurairah yang sibuk mengumpulkan hadits. Ada yang menyendiri, sibuk beribadah dan taqarrub ilallah.Karena itulah landasan jama'ah yang selamat yaitu mengikuti Alqur'an dan sunnah. Dalam Alqur'an selalu kita temukan kata-kata taat kepada Allah yang artinya mengikuti Alqur'an dan taat kepada Rasulullah artinya mengikuti sunnah."Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."( An Nisaa 4:59)"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (Ani Nisaa 4:65).KomprehensifSelanjutnya jama'ah dakwah sebaiknya bersifat komprehensif/ syumul. Yaitu jama'ah dakwah yang bergerak di semua lini kehidupan. Baik dalam masalah aqidah, ibadah, pendidikan, ekonomi, politik, seni, budaya hingga pertahanan keamanan.Sebab betapa banyak diantara kita yang terjebak kepada hal-hal yang parsial. Ketika melihat betapa banyaknya fadhilah tauhid. Lalu kita hanya menggarap masalah tauhid. Yang lainnya melihat betapa indahnya fadhilah berilmu maka mereka memfokuskan hanya dalam kajian-kajian ilmiyah semata. Lalu kita melihat bahwa Islam sangat mendorong orang untuk wara', berhati bersih, berdzikir dan beribadah dengan khusyu' lalu kita hanya terfokus dalam masalah-masalah tazkiyatun nafs (tasawuf).Padahal Islam telah sempurna. Yang mencakup segala aspek kehidupan. "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."( Al baqarah 2:208)"....pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu ..."(Al Maaidah 5:3).Bahkan Allah mengutuk orang yang bersifat parsial. Mengambil sebagian dan mencampakkan sebagian yang lainnya.".... apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat"(Albaqarah 2:85)Selain itu dalam kehidupan juga tidak dapat dipisah-pisahkan, antara satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Contohnya seni dapat mempengaruhi dan merusak aqidah. Semisal jatilan (kuda lumping). Seni juga dapat mempengaruhi ibadah dan akhlak. Contohnya sinetron dan bioskop. Betapa banyak generasi muda kita rusak karena terpengaruh oleh tontonan. Lalu bagaimana mungkin kita akan berlepas diri dari masalah ini serta tidak berusaha membenahinya?Demikian halnya masalah politik juga akan berpengaruh dalam kehidupan beragama. Contohnya asas tunggal & P4. Telah membuat umat islam terpenjara dalam ideologi buatan orde baru. KUHP telah menjadikan umat terpenjara dalam hukum Belanda.Karena itu jama'ah dakwah hendaknya menggarap semua aspek kehidupan. Atau paling tidak jika bersifat parsial sesuai keahliannya. Dibutuhkan kerjasama, koordinasi ataupun agenda bersama. Yaitu adanya pembagian tugas yang jelas diantara jama'ah dakwah tersebut.Visi, Misi, Strategi dan Program Yang JelasJama'ah dakwah yang baik adalah jama'ah dakwah yang memiliki visi, misi, agenda, strategi dan program yang jelas. Karena tidak mungkin kita dapat mengalahkan kekuatan kaum kuffar hanya bermodalkan semangat dan simbol-simbol lahiriyah semata.Lawan yang kita hadapi dan lahan dakwah yang kita garap sangat luas. Mereka bekerja dengan cara yang efektif, efisien dengan agenda yang jelas, manajemen yang bagus dan teknologi yang tinggi.Karena itu jama'ah dakwah harus memiliki visi yang jelas. Mau kemana jama'ah dakwah tersebut. Alangkah sayangnya kalau jama'ah didirikan hanya untuk mempertahankan tradisi-tradisi peninggalan nenek moyang kita. Atau hanya untuk mempertahankan ritual-ritual/ tradisi yang bersifat lokal yang tidak pernah dicontohkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang bukan sunnah dan bukan pula wajib."Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."( Al Qashash 28:77)"Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". Mereka Itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. "(Al baqarah 2:201-202)Itulah visi dan misi yang diajarkan Allah SWT. Yaitu agar kita bahagia di dunia dan di akherat. Untuk mencapai hal ini maka tentu saja perlu dikelola (manage), ditata dan diprogram dengan baik.Untuk mengelola perusahaan saja kita kerjakan dan kita program dengan sangat baik. Dengan visi, misi, RKAP dan prosedur yang jelas. Lalu kenapa untuk urusan yang sangat besar (dakwah) kita bikin seadanya. Cuma mengandalkan tabligh atau ta'lim.Untuk mengetahui hal tersebut di atas maka kita harus lihat anggaran dasar atau anggaran rumah tangganya. Atau kita lihat arahan-arahan para syaikhnya atau pendirinya. Tapi paling tidak jama'ah yang baik memiliki beberapa kriteria sebagai berikut.Yaitu dengan cara mengislamkan diri sendiri dahulu, keluarga, masyarakat, negara dan dunia. Untuk kemudian menjadi guru bagi peradaban dunia. Dalam lingkup pribadi harus mampu membentuk pribadi yang aqidahnya selamat, ibadahnya benar, akhlaknya mulia, fisiknya kuat, ilmunya luas, mandiri, bermanfaat bagi orang lain dan dapat membagi waktunya dengan baik.Dalam lingkup keluarga, berupaya membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Serta memiliki semboyan Alllah tujuan kami, Rasul tauladan kami, Alqur'an hukum kami, jihad jalan kami dan mati syahid adalah cita-cita kami. Itulah contoh jama'ah dakwah yang memiliki visi, misi, metode, jalan dan program yang jelas dan terang seterang matahari

Tidak ada komentar:

Template by:
Free Blog Templates